Kamis, 07 Oktober 2010

BAYI TABUNG: PRO DAN KONTRA

BAYI TABUNG: PRO DAN KONTRA
Secara filosofis, sesuatu yang bersumber dari Allah SWT merupakan wujud kasih sayang-Nya kepada para hamba-Nya dalam bingkai peraturan maupun pesan yang terdapat didalam teks suci Al Qur'an dan Al Hadist. Disain peraturan yang mengandung perintah dan larangan menempati posisi yang seratus persen kebenarannya yang menjadi hal yang harus diyakini oleh pemeluknya. Akan tetapi ketika pesan Allah ini turun ke strata bumi dan terkirim kepada segenap manusia, maka pesan ini menjadi nisbi / relatif kebenarannya. Karena manusia dengan berbagai corak pemikirannya yang berstandar relatif/ nisbi tidak akan mampu secara total menerima pesan ke-Maha Mutlak-an Allah. Maka disinilah lahir embrio perbedaan/ khilafiyah disisi manusia. Sehingga muncul pro dan kontra dengan diikuti berbagai dalih untuk mendukungnya.
Pro dan kontra tersebut juga tidak luput menyangkut terhadap fenomena bayi tabung. Dari berbagai perspektif, para pakar/ cendekiawan—baik itu muslim maupun sekuler—melontarkan pendapatnya dalam menanggapi persoalan tersebut. Dari kacamata agama, para pakar/ cendekiawan muslim akan sangat mengunggulkan nilai-nilai transenden dalam memutuskan perkara tersebut, sedangkan cendekiawan sekuler akan jauh dari cakupan agama di dalamnya. Seringkali pula sesama cendekiawan muslim juga terdapat khilafiyah yang masing-masing punya argumen pendukungnya. Ini menjadi sunnatullah yang tidak bisa terelakkan.
Anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah . Dari teks undang-undang ini mendeskribiskan bahwa perkawinan yang sah yang menjadi titik acuan dalam menilai anak yang dilahirkan sah atau tidak. Teks ini juga yang melandasi halal-haramnya negara memberi penekanan akan kelahiran anak yang sah.
Penerapan teknik bayi tabung sebagai langkah menghasilkan anak yang sah perlu dikontrol oleh nilai-nilai normatif agama, agar penerapannya tidak menyimpang dari rute Ilahi. Didasari landasan inilah, Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) memfatwakan inseminasi buatan/ bayi tabung ini. Hasil Komisi Fatwa, tertanggal 13 Juni 1979 , menerangkan bahwa,
1. Bayi tabung dengan sperma dan ovum dari pasangan suami istri yang sah hukumnya mubah (boleh), sebab hak ini termasuk ikhtiar berdasarkan kaidah-kaidah agama.
2. Bayi tabung dari pasangan suami istri dengan titipan rahim istri yang lain (misalnya dari istri kedua dititipkan pada istri pertama) hukumnya haram berdasarkan kaidah sadd az zari'ah, sebab hal ini akan menimbulkan masalah yang rumit dalam kaitannya dengan masalah warisan (khusunya antara anak yang dilahirkan dengan ibu yang mempunyai ovum dan ibu yang mengandung kemudian melahirkannya, dan sebaliknya)
3. Bayi tabung dari sperma yang dibekukan dari suami yang telah meninggal dunia hukumnya haram berdasarkan kaidah sadd az zari'ah, sebab hal ini akan menimbulkan masalah yang pelik, baik dari kaitannya dengan penentuan nasab maupun dalam kaitannya dengan hal kawarisan.
4. Bayi tabung yang sperma dan ovumnya diambil dari selain pasangan suami istri yang sah hukumnya haram, karena itu statusnya sama dengan hubungan kelamin antar lawan jenis diluar pernikahan yang sah (zina), dan berdasarkan kaidah sadd az zariah, yaitu untuk menghindarkan terjadinya perbuatan zina sesungguhnya.
Disamping adanya dukungan/ pro akan perkara bayi tabung, ada pula yang melarang, seperti apa yang diutarakan oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albani, "karena proses pengambilan mani (sel telur wanita) tersebut berkonsekuensi minimalnya sang dokter (laki-laki) akan melihat aurat wanita lain. Dan melihat aurat wanita lain (bukan istri sendiri) hukumnya adalah haram"
Hal ini ditambah pula argumentasi yang menjelaskan akan sikap skeptis terhadap orang-orang Barat (kaum kuffar), sehingga menyimpulkan bahwa dengan menempuh cara ini (bayi tabung) dianggap sebagai sikap taklid terhadap peradaban Barat. Selain argumen tersebut, keturunan sebagai salah satu rizki dari Allah SWT, sehingga apabila cara bayi tabung digunakan, berarti dia tidak ridha dengan takdir dan ketetapan ALLAH SWT.

Tidak ada komentar:

BAYI TABUNG: PRO DAN KONTRA

BAYI TABUNG: PRO DAN KONTRA
Secara filosofis, sesuatu yang bersumber dari Allah SWT merupakan wujud kasih sayang-Nya kepada para hamba-Nya dalam bingkai peraturan maupun pesan yang terdapat didalam teks suci Al Qur'an dan Al Hadist. Disain peraturan yang mengandung perintah dan larangan menempati posisi yang seratus persen kebenarannya yang menjadi hal yang harus diyakini oleh pemeluknya. Akan tetapi ketika pesan Allah ini turun ke strata bumi dan terkirim kepada segenap manusia, maka pesan ini menjadi nisbi / relatif kebenarannya. Karena manusia dengan berbagai corak pemikirannya yang berstandar relatif/ nisbi tidak akan mampu secara total menerima pesan ke-Maha Mutlak-an Allah. Maka disinilah lahir embrio perbedaan/ khilafiyah disisi manusia. Sehingga muncul pro dan kontra dengan diikuti berbagai dalih untuk mendukungnya.
Pro dan kontra tersebut juga tidak luput menyangkut terhadap fenomena bayi tabung. Dari berbagai perspektif, para pakar/ cendekiawan—baik itu muslim maupun sekuler—melontarkan pendapatnya dalam menanggapi persoalan tersebut. Dari kacamata agama, para pakar/ cendekiawan muslim akan sangat mengunggulkan nilai-nilai transenden dalam memutuskan perkara tersebut, sedangkan cendekiawan sekuler akan jauh dari cakupan agama di dalamnya. Seringkali pula sesama cendekiawan muslim juga terdapat khilafiyah yang masing-masing punya argumen pendukungnya. Ini menjadi sunnatullah yang tidak bisa terelakkan.
Anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah . Dari teks undang-undang ini mendeskribiskan bahwa perkawinan yang sah yang menjadi titik acuan dalam menilai anak yang dilahirkan sah atau tidak. Teks ini juga yang melandasi halal-haramnya negara memberi penekanan akan kelahiran anak yang sah.
Penerapan teknik bayi tabung sebagai langkah menghasilkan anak yang sah perlu dikontrol oleh nilai-nilai normatif agama, agar penerapannya tidak menyimpang dari rute Ilahi. Didasari landasan inilah, Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) memfatwakan inseminasi buatan/ bayi tabung ini. Hasil Komisi Fatwa, tertanggal 13 Juni 1979 , menerangkan bahwa,
1. Bayi tabung dengan sperma dan ovum dari pasangan suami istri yang sah hukumnya mubah (boleh), sebab hak ini termasuk ikhtiar berdasarkan kaidah-kaidah agama.
2. Bayi tabung dari pasangan suami istri dengan titipan rahim istri yang lain (misalnya dari istri kedua dititipkan pada istri pertama) hukumnya haram berdasarkan kaidah sadd az zari'ah, sebab hal ini akan menimbulkan masalah yang rumit dalam kaitannya dengan masalah warisan (khusunya antara anak yang dilahirkan dengan ibu yang mempunyai ovum dan ibu yang mengandung kemudian melahirkannya, dan sebaliknya)
3. Bayi tabung dari sperma yang dibekukan dari suami yang telah meninggal dunia hukumnya haram berdasarkan kaidah sadd az zari'ah, sebab hal ini akan menimbulkan masalah yang pelik, baik dari kaitannya dengan penentuan nasab maupun dalam kaitannya dengan hal kawarisan.
4. Bayi tabung yang sperma dan ovumnya diambil dari selain pasangan suami istri yang sah hukumnya haram, karena itu statusnya sama dengan hubungan kelamin antar lawan jenis diluar pernikahan yang sah (zina), dan berdasarkan kaidah sadd az zariah, yaitu untuk menghindarkan terjadinya perbuatan zina sesungguhnya.
Disamping adanya dukungan/ pro akan perkara bayi tabung, ada pula yang melarang, seperti apa yang diutarakan oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albani, "karena proses pengambilan mani (sel telur wanita) tersebut berkonsekuensi minimalnya sang dokter (laki-laki) akan melihat aurat wanita lain. Dan melihat aurat wanita lain (bukan istri sendiri) hukumnya adalah haram"
Hal ini ditambah pula argumentasi yang menjelaskan akan sikap skeptis terhadap orang-orang Barat (kaum kuffar), sehingga menyimpulkan bahwa dengan menempuh cara ini (bayi tabung) dianggap sebagai sikap taklid terhadap peradaban Barat. Selain argumen tersebut, keturunan sebagai salah satu rizki dari Allah SWT, sehingga apabila cara bayi tabung digunakan, berarti dia tidak ridha dengan takdir dan ketetapan ALLAH SWT.

Tidak ada komentar:

where are you?